Beranda Berita Pemerintah Izinkan Pelaksanaan Bukber, Salat Tarawih dan Salat Ied

Pemerintah Izinkan Pelaksanaan Bukber, Salat Tarawih dan Salat Ied

80
0
BERBAGI

JAKARTA – Kerinduan umat Islam untuk bisa melaksanakan kegiatan buka puasa bersama (Bukber), salat tarawih, dan salat Idul Fitri seperti tahun-tahun sebelumnya, mendapatkan perhatian secara serius dari pemerintah. Kendati masih dalam era pandemi Covid-19, pemerintah mengizinkan kegiatan keagaamaan tersebut. Namun dengan syarat kehadiran paling banyak 50 persen dari kapasitas ruangan.

Terkait diizinkannya kegaiatan bukber, salat tarawih, dan salat Idul Fitri tersebut, Kementerian Agama pun menerbitkan surat edaran (SE) tentang panduan ibadah Ramadan dan Idul Fitri 1442 H/2021 M. Surat tersebut ditandatangani langsung oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, Senin (05/04/21).

SE bernomor 03 tahun 2021 itu berisi sejumlah panduan ibadah maupun aktivitas umat Islam di bulan Ramadan. Dan jika dicermati isi dalam SE tersebut sangat berbeda dengan SE tahun sebelumnya.

Contohnya, kegiatan bukber diizinkan dengan syarat kehadiran orang paling banyak 50 persen dari kapasitas ruangan. Kemudian untuk salat tarawih dan salat Idul Fitri juga diperbolehkan. Namun lagi-lagi dengan ketentuan tingkat keterisian masjid/mushala/lapangan hanya 50 persennya. Selain itu juga ketiga kegiatan keagamaan tersebut harus tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

“Shalat Idul Fitri 1 Syawal 1442 H/2021 M dapat dilaksanakan di masjid atau di lapangan terbuka dengan memperhatikan protokol kesehatan secara ketat, kecuali jika perkembangan COVID-19 mengalami peningkatan berdasarkan pengumuman Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 untuk seluruh wilayah negeri atau pemerintah daerah di daerahnya masing-masing,” bunyi SE tersebut.

Dalam SE juga mengingatkan agar pengurus maupun pengelola masjid wajib menunjuk petugas yang memastikan penerapan protokol kesehatan. Petugas juga harus mengumumkan kepada seluruh jamaah, untuk melakukan disinfektan secara teratur, menyediakan sarana cuci tangan di pintu masuk masjid/musala, menggunakan masker, menjaga jarak aman, dan setiap jamaah membawa sajadah/mukena masing-masing.

Dalam SE, disebutkan untuk penyelenggaraan ibadah dan dakwah di bulan Ramadan, segenap umat Islam dan para mubaligh/penceramah agama agar menjaga ukhuwwah Islamiyah, ukhuwwah wathaniyah, dan ukhuwwah basyariyah, serta tidak mempertentangkan masalah khilafiyah yang dapat mengganggu persatuan umat.

“Para mubaligh/penceramah agama diharapkan berperan memperkuat nilai-nilai keimanan, ketakwaan, akhlaqul karimah, kemaslahatan umat, dan nilai-nilai kebangsaan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui bahasa dakwah yang tepat dan bijak sesuai tuntunan Alquran dan As-sunnah,” demikian yang tertulis di SE.

Menag Yaqut berharap SE itu bisa menjadi pedoman bagi seluruh umat muslim dalam menjalankan setiap ibadah maupun aktivitas di bulan suci Ramadhan, sekaligus menekan penularan COVID-19.

“Surat Edaran ini bertujuan untuk memberikan panduan beribadah yang sejalan dengan protokol kesehatan, sekaligus untuk mencegah, mengurangi penyebaran dan melindungi masyarakat dari risiko COVID-19,” katanya.(fin/red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here