Beranda Berita Waduh, Ratusan Anak Direhebilitasi di Rumah Sakit Jiwa karena Alami Kecanduan HP...

Waduh, Ratusan Anak Direhebilitasi di Rumah Sakit Jiwa karena Alami Kecanduan HP dan Game

249
0
BERBAGI
Wagub Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum menemui remaja kecanduan game di gawai yang menjalani perawatan rawat jalan di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jabar, Selasa (16/3). Foto: ANTARA

BANDUNG BARAT  –  Kecanduan menggunakan handphone (Hp) dan game pada anak-anak boleh dibilang sudah masuk tahap mengkhawatirkan. Pasalnya sepanjang tahun 2020 hingga awal tahun 2021, ada ratusan anak dari berbagai daerah di Jawa Barat terpaksa harus menjalani rehabilitasi di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Jawa Barat akibat kecanduan tersebut.

Berdasarkan data RSJ Cisarua pada bulan Januari hingga Februari 2021 tercatat ada 14 anak mengalami adiksi atau kecanduan ponsel yang menjalani rehabilitasi rawat jalan. Sedangkan pada tahun 2020 mulai bulan Januari sampai Desember, terdata ada 98 anak yang menjalani rehabilitasi rawat jalan karena kecanduan ponsel tersebut.

“Januari dan Februari itu ada 14 orang yang menjalani rawat jalan. Mereka ini murni gangguan adiksi gawai (hp), jadi yang dominan itu kecanduan internet di antaranya adiksi games,” ujar Direktur Utama RSJ Cisarua Elly Marliyani saat ditemui di RSJ Cisarua, Jalan Kolonel Masturi, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (16/3).

Sementara itu untuk tahun 2019, kata Elly, pihaknya belum memisahkan secara khusus data pasien yang kecanduan akibat games. Pihak RSJ hanya menangani pasien komorbid, yakni anak yang mengalami gangguan jiwa dengan kecanduan games. “Jadi 2019 itu belum ada data murni, gabungan itu sebulan ada 11 sampai 12 (pasien),” terangnya.

Dijelaskan Elly, dalam merawat pasien akibat kecanduan ponsel atau gawai timnya memberikan terapi berupa konseling dan psikoterapi, baik kepada anak maupun orang tuanya. “Pada kasus-kasus yang berat atau sudah ada gejala gangguan jiwa, bisa juga diberikan obat,” katanya.

Untuk mencegah anak kecanduan gawai maupun games , Elly menyarankan, orang tua dapat membatasi pemakaiannya. Misalkan saja maksimal dua jam. Kemudian juga bisa mendorong anak menggunakan internet untuk hal-hal positif dan produktif.

Upaya lainnya, lanjut Elly, bisa dilakukan dengan memotivasi anak berkegiatan fisik di luar rumah, membatasi akses internet di rumah, serta  menjauhkan gawai saat di tempat tidur.

“Orang tua juga bisa menggunakan teknologi dalam memantau penggunaan gawai atau internet, misalnya dengan parental lock dan lainnya” tutur Elly.

Sementara itu, Sub Spesialis Psikiater Anak dan Remaja RSJ Cisarua, Lina Budiyanti menambahkan, mayoritas orang tua yang membawa anak-anaknya untuk dilakukan rehabilitasi rawat jalan adalah karena anaknya mudah tersulut emosi apabila dilarang menggunakan ponsel.

“Ketika dilarang langsung ekspresi emosinya sangat tinggi. Bisa melempar barang, bahkan bisa mengancam dengan senjata tajam kalau tidak dituruti permintaannya, seperti ponsel dan kuota,” jelas Lina seperti dikutip dari suara.com.

Lina pun tidak menampik faktor pandemi Covid-19 juga turut menyumbang kecanduan anak-anak terhadap gawai. Apalagi selama setahun terakhir anak-anak usia sekolah terpksa melakukan pembelajaran secara daring. Sehingga anak-anak lebih banyak memegang ponsel.

“Sebagian yang datang ke kami, diperberat dengan kondisi ini (pandemi Covid-19). Jadi pandemi kan mereka tidak kemana-mana. Orang tua awalnya memberikan kelonggaran, karena berpikir kalau enggak main game, mau nagapin. Awalnya dari situ, tapi lama-lama pemakaian enggak terkendali, akhirnya jadi adiksi,” beber Lina.

Bagi orang tua yang mendapati anaknya mulai kecanduan gawai, dapat mengakses layanan RSJ Provinsi Jawa Barat dengan mengklik fitur Konsultasi Jiwa Online di link berikut http://rsj.jabarprov.go.id/. (bbs/red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here